KAPUR DOLOMITE
Kapur Dolomit CaMg(CO₃)₂ mengandung Kalsium (CaO) dan Magnesium (MgO).
Dolomit murni mengandung 21,70% Kalsium dan 13,04% Magnesium.
Tingkat keasaman tanah perlu disesuaikan dengan habitat alami tanaman yang akan dipelihara agar mampu beradaptasi dengan baik.
Kapur ini dihasilkan dari pabrik pupuk ZA yang menggunakan bahan baku berupa Phosphor gypsum, Amoniak (NH3), dan Karbon dioksida (CO2). Oleh karena itulah, kapur ini juga mengandung unsur hara makro dan mikro.
Pada umumnya, Kapur Dolomit berbentuk halus (powder/tepung halus) yang bersifat homogen dan berwarna putih kecokelatan dengan kadar kelarutan 0,15 mg/L serta kerapatan jenisnya mencapai 0,762 ton/m3.
Kapur Dolomit mempunyai 10 manfaat penting antara lain :
✓Meningkatkan pH tanah
✓Memperbanyak unsur hara di dalam tanah
✓Menetralisir tanah dari senyawa beracun
✓Menambah populasi mikroorganisme
✓Merangsang pertumbuhan akar tanaman
✓Menghijaukan tanaman
✓Menaikkan produktivitas dan kualitas panen
✓Menyediakan unsur Ca dan Mg
✓Menetralkan kadar keasaman dari unsur Al
✓Membunuh bibit penyakit
Agar hasilnya optimal, Kapur Dolomit yang akan diaplikasikan ke lahan harus dipilih berdasarkan faktor-faktor tertentu. Di antaranya yaitu sifat kimia, harga, kecepatan reaksi, serta kehalusan bahan.
Sedangkan dalam penggunaannya, ada 3 (tiga) metode yang dapat dilakukan untuk mengaplikasikan kapur ini ke lahan pertanian.
Metode 1 : Penyebaran ke Lahan secara Merata
Untuk memperbaiki kondisi tanah, Kapur Dolomit bisa disebarkan dengan cara menaburkannya ke area lahan. Kapur ini harus benar-benar disebarkan ke seluruh bagian lahan secara merata. Proses ini biasanya dikerjakan pada saat tahap pengolahan lahan dan sebelum proses penanaman bibi tumbuhan. Lahan yang sudah diberi kapur ini selanjutnya didiamkan selama 2-3 minggu agar kondisinya normal kembali.
Taburkan Kapur Dolomit secara merata setelah pengolahan tanah pada tahap pertama. Kapur ini harus dicampurkan ke tanah melalui mekanisme pengolahan tanah tahap kedua. Waktu pemberian kapur sebaiknya dilakukan paling cepat 2 minggu sebelum waktu penanaman bibit dimulai yaitu pada awal musim penghujan sehingga reaksinya dapat berjalan dengan baik. Dalam sekali pemberian Kapur Dolomit cukup untuk jangka waktu selama 5 tahun mendatang. Jadi sebaiknya gunakanlah 2-3 kali takaran yang dibutuhkan. Sehingga pada pemberian kapur berikutnya yakni tahun ke-6, takaran kapur yang dipakai adalah 0,25 dari takaran semula.
Metode 2 : Penaburan Pada Lubang Tanam
Kapur Dolomit juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk dasar pada proses pembudidayaan tanaman perkebunan. Caranya adalah pupuk ini ditaburkan dengan dosis secukupnya ke dalam lubang tanam. Setelah itu, tutupi lapisan kapur tersebut menggunakan campuran tanah dan pupuk kandang. Biarkan lubang tanam dalam waktu 2-3 minggu sebelum boleh digunakan. Berikutnya Anda bisa menanamkan bibit ke dalam lubang tersebut.
Metode 3 : Pencampuran dengan Pupuk ZA
Kapur Dolomit pun dapat disebarkan bersama dengan pupuk ZA dengan mencampurkannya terlebih dahulu. Campuran ini selanjutnya berguna untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman berupa Magnesium dan Sulfat nitrogen tanpa menurunkan kadar keasaman tanah. Adapun metode penerapannya yaitu campuran kapur Dolomit dan pupuk ZA ini disebarkan secara merata dalam larikan yang sejajar di dalam barisan tanaman, di sekeliling tanaman, atau dimasukkan ke dalam lubang khusus yang dibuat di sisi kanan dan kiri tanaman.
Pupuk Dolomit Untuk Kesuburan Tanaman
Kapur Dolomit mengandung unsur hara Kalsium oksida (CaO) dan juga Magnesium oksida (MgO) dengan kadar yang cukup tinggi, hal ini dapat menetralkan pH tanah, ini sangat baik untuk tanah karena jika tanah kekurangan Kalsium dan Magnesium, maka tanaman otomatis akan menjadi kurang maksimal berproduksi.
Hingga kini masih banyak para petani yang belum mengetahui apa kegunaan dari kapur Dolomit ini, sebagian dari mereka hanya mengetahui kalau Kapur Dolomit ini hanya baik untuk menetralkan pH tanah saja, faktanya kapur ini masih memiliki kegunaan lainya, pemberian kapur Dolomit ini sangat membantu produktivitas tanaman.
Baiknya lakukan terlebih dahulu pengukuran terhadap keasaman tanah, sebelum menggunakan Kapur Dolomit. Pengukuran ini bisa dilakukan dengan kertas Lakmus, Soil tester atau pH tester, namun pH tester adalah alat yang sering digunakan karena alat ini termasuk alat yang sederhana dan cukup murah harganya dan mudah dijumpai di toko alat kimia terdekat.
Kenaikan derajat keasaman yang dipaksakan secara mendadak dari sangat asam atau asam kuat menjadi netral membuat tanaman tersiksa, untuk mengatasinya sebaiknya pemberian Dolomit secara bertahap, dengan selang waktu 3 minggu dan juga setelah hujan. Setiap tanaman memiliki kesesuaian derajat keasaman yang berbeda-beda, jadi pemberian Kapur Dolomit dapat diatur dengan menyesuaikan jenis tanaman yang akan ditanam.
Cara menggunakan Kapur Dolomit:
• Bila digunakan untuk memperbaiki tanah yang rusak, cara aplikasinya adalah Kapur Dolomit disebar atau ditabur merata pada permukaan tanah yang akan diolah atau sebelum ditanam.
• Apabila Kapur Dolomit digunakan sebagai pupuk dasar tanaman, Dolomit ditaburkan di dasar lubang tanam kemudian dicampur merata dengan pupuk dan tanah setelah itu ditimbun sedikit dan biarkan selama kurang lebih 1-2 minggu setelah itu baru proses penanaman.
• Pemakaian kombinasi Dolomit dan ZA mampu memasok hara Magnesium dan juga Sulfat serta Nitrogen pada tanaman dan tidak mengasamkan tanah, cara pengaplikasiannya yaitu disebar merata di sejajar baris tanaman atau di sekeliling batang tanaman.
• Apabila Kapur Dolomit digunakan untuk menetralisirkan tanah masam atau menaikkan pH, pupuk Dolomit ditabur secara merata 7-10 hari sebelum diberi pupuk lainya.
CARA MENETRALKAN TANAH
Tanah adalah media alam yang menjadi salah satu aspek penunjang kehidupan seluruh makhluk hidup, termasuk pula tanaman. Subur atau tidaknya tanah dipengaruhi oleh kandungan unsur hara yang berbeda-beda pada setiap jenis tanah.
Unsur hara yang terkandung dalam tanah secara langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman disamping faktor kemampuan tanaman dalam menyerap zat hara dari dalam tanah.
Kemampuan tanaman untuk melakukan proses penyerapan unsur hara juga dipengaruhi oleh faktor utama, yakni tingkat keasaman tanah atau pH.
Istilah pH atau derajat keasaman tanah. Istilah ini sedikit banyak mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas tanaman di suatu tempat.
pH merupakan kependekan dari "potensial of hydrogen," sedangkan pH tanah adalah suatu standar pengukuran tingkat keasaman atau kebasaan pada suatu lahan.
Dengan mengetahui kadar pH dalam tanah, maka para petani dapat menentukan tanaman apa yang cocok ditanam atau di budidayakan karena setiap tanaman memiliki karakteristik kebutuhan kadar pH yang berbeda-beda.
Mengetahui derajat keasaman tanah sangat penting terutama bagi petani dan pengusaha perkebunan agar mendapatkan hasil panen maksimal.
Ada tiga jenis pH yang mendasari karakteristik tanah dan biasanya menjadi acuan utama dalam bidang pertanian antara lain :
1.) pH #Netral
Tanah dengan pH netral berada pada angka 6,5 hingga 7,8. Tingkat keasam-basaan ini merupakan pH ideal dengan kandungan senyawa organik, mikroorganisme, unsur hara dan mineral-mineral dalam kondisi yang optimal. Biasanya tanah ber-pH netral cocok digunakan untuk bercocok tanam.
Beberapa tanaman seperti Ubi kayu optimal ditanam pada tanah dengan pH 4,5 hingga 8 dan cabai yang memerlukan pH tanah antara 5,6 hingga 7,2.
2.) pH #Asam
Kadar pH dalam tanah asam biasanya dimiliki oleh tanah gambut yang cenderung mempunyai kandungan hidrogen, aluminium, dan belerang tinggi.
Pada kondisi asam, biasanya tanaman tidak mampu tumbuh dengan baik karena zat hara tidak dapat diserap oleh tumbuhan secara optimal.
Untuk mengurangi kadar keasaman tanah, kita dapat melakukan pemberian dolomit atau kapur pertanian.
3. ) pH #Basa
Tanah dengan pH basa lebih banyak mengandung zat kapur dan umumnya terdapat di di daerah pesisir pantai.
Selain itu, tanah basa juga memiliki kandungan ion magnesium, kalsium, kalium, dan natrium yang lebih tinggi.
Kondisi kebasaan yang tinggi tidak baik bagi tanaman. Pengolahan tanah basa agar pH menjadi netral dapat dilakukan dengan pemberian kapur gypsum.
A.) Mengukur pH Tanah
Pengkuran kadar pH dalam tanah dapat dilakukan sebelum melakukan cocok tanam, baik pertanian maupun perkebunan.
Cara paling mudah untuk mengukur kadar pH dalam tanah adalah menggunakan pH meter tanah.
Alat ukur ini bisa dibeli dengan harga sekitar 300 ribu dan biasanya dimiliki oleh petani modern yang pekerjaannya selalu berhubungan dengan tanaman. Namun bagi petani tradisional, alat ini bukan menjadi barang wajib dan mungkin masih banyak yang tidak mengenal fungsinya.
B.) Pengaruh PH Tanah Terhadap Pertumbuhan Tanaman
Tingkat pH tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pengaruh secara langsung tentu saja bisa dilihat dari fisik tanaman seperti diameter batang, kelebatan daun, dan tingkat produktivitas tanaman.
Pengaruh tidak langsungnya meliputi beberapa hal seperti nutrisi tanah, kandungan nitrogen dan bakteri tanah.
C.) Ketersediaan Bakteri dan Mikroorganisme
Beberapa jenis bakteri dan mikroorganisme yang hidup di bagian akar tanaman dapat membantu pertumbuhan tanaman karena mengikat nutrisi dari dalam tanah. Selain itu, mereka mampu merubah nitrogen di udara menjadi nitrogen yang dapat digunakan oleh tanaman.
Pengaruh lainnya adalah ketersediaan unsur hara berkat penguraian berbagai zat didalam tanah yang dilakukan oleh mikroorganisme. Namun, bakteri dan mikroorganisme hanya bisa hidup pada tanah dengan derajat pH yang sesuai.
D.) Ketersediaan dan Penyerapan Unsur Hara
Beberapa zat yang diperlukan oleh tanaman hanya tersedia pada derajat pH tertentu. Misalnya zat fosfor yang ada di skala pH tanah 6 – 7. Disamping itu tingkat keasaman tanah ikut mempengaruhi mudah atau tidaknya ion-ion pada unsur hara diserap tanaman.
Semakin tinggi tingkat keasaman, semakin sulit nutrisi tanah diserap karena berbagai reaksi kimia yang terjadi. Sebaliknya jika keasaman normal, tanaman lebih mudah menyerap nutrisi dalam tanah karena mudah larut dalam air.
E.) Pengaruh Tingkat Keasaman Tanah
Nilai derajat pH tanah banyak mempengaruhi kualitas pertumbuhan tanaman. Pada pH 6,5 ke bawah atau masam, tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik atau bahkan tanah sulit untuk ditanami.
Hal ini disebabkan oleh sedikitnya nutrisi yang terkandung pada tanah dan meningkatnya kadar racun.
Saat tanah dalam kategori masam terjadi pengikatan secara kimiawi pada zat Magnesium, Kalsium, dan Posfor sehingga tidak dapat diserap oleh akar tanaman. Akibatnya tanaman tidak dapat melakukan fotosintesis dengan baik.
Gejala yang paling sering terjadi pada tanaman yang tumbuh di tanah dengan keasaman tinggi adalah daunnya yang menguning atau kecoklatan di bagian pinggirnya meskipun masih muda.
Hal ini disebabkan akar tanaman tidak mampu menyerap zat besi dan nitrogen. Selain itu akar tanaman menjadi lebih pendek akibat teracuni alumunium. Pertumbuhan tanaman menjadi tidak normal dan produktivitasnya rendah.
Melakukan pemupukan juga sia-sia karena tidak dapat diserap dengan maksimal oleh tanaman. Untuk menurunkan tingkat keasaman tanah biasanya dilakukan pengapuran terlebih dahulu sebelum penanaman dilakukan.
F.) Pertanian Subur dengan pH Tanah Normal
pH tanah netral antara 6,6 - 7 merupakan tanah yang paling cocok ditanami berbagai macam tanaman. Tanaman akan tumbuh dengan normal berkat nutrisinya yang terpenuhi.
Ciri yang mudah dikenali dari tanaman yang tumbuh diatas tanah dengan pH netral adalah buah dan daunnya yang lebat.
Namun perlu hati-hati karena penggunaan pupuk kimia atau pestisida dapat merubah derajat pH jika penggunaannya berlebihan.
Terakhir ada pH basa atau 7,1 ke atas. Pada saat kandungan pH diatas 7,1 tanaman juga tidak dapat tumbuh sempurna. Terjadi pengikatan secara kimiawi pada zat besi, mangan, seng, dan tembaga.
Para petani atau pengusaha perkebunan biasanya akan menurunkan tingkat basa tanah menggunakan belerang agar mendapatkan hasil panen yang lebih banyak. Namun, cara tersebut kurang efektif pada tanah yang memiliki unsur kalsium karbonat atau kapur.
Mengapa kita perlu mengetahui pH tanah?
pH tanah dimulai dari 0 – 14, jika saat pengujian tingkat keasaman tanah menunjukkan rentang angka 0 – 7, maka tanah tersebut termasuk ke dalam tanah asam. Sedangkan tanah basa jika tingkat keasaman menunjukan angka antara 7 – 14. Kondisi tanah normal atau netral jika tingkat keasaman berada pada angka 6 – 8 dan kondisi idealnya berada pada angka 6,5 – 7,5.
Hal ini berkaitan dengan fase pertumbuhan dari tanaman tersebut. Semakin tinggi pH tanah (basa) maka unsur hara yang terkandung di dalam tanah akan sangat sulit diserap oleh tanaman, begitupun sebaliknya saat kondisi tanah cendrung asam atau pH terlalu rendah.
Tanah basa biasanya kandungan hara dan mikroorganismenya sangat sedikit sehingga pertumbuhan tanaman terganggu. Sedangkan pada tanah asam, tanaman akan mudah keracunan oleh unsur logam serta kekurangan hara. Unsur hara dan mineral akan mudah diserap oleh tanaman ketika berada pada kondisi netral.
Jika sudah diketahui tingkat keasaman tanah kita harus segera mengambil tindakan untuk menetralkan pH tanah. Cara yang dilakukan untuk menetralkan tanah asam dan basa tentu berbeda.
Efektivitas dan efisiensi pemupukan meningkat dengan bahan organik
Bahan organik merupakan komponen penting yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Namun, peranan bahan organik yang sangat besar dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemupukan sering dilupakan oleh pekebun kelapa sawit, yang berdampak pada hasil yang kurang maksimal.
@riewattyrioz@2022
Komentar
Posting Komentar